Labels

Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Buku Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

Ulasan Antologi Cerpen "Perempuan Kedua"



Judul Buku       : Perempuan Kedua
Pengarang        : Labibah Zain
Tahun Terbit     : 2008
Oleh                  : Qismatun Nihayah

          Buku kumpulan cerita pendek (cerpen) “Perempuan Kedua” karya Labibah Zain berkisah tentang realita perempuan dari berbagai sudut. Ia menceritakan tentang perempuan dengan gamblang. Bahwa perempuan bisa tangguh. Bisa pula rapuh. Bisa setia. Bisa pula membagi cinta dengan cara jadi perempuan kedua. Dalam buku tersebut terdapat tiga belas judul cerpen yang di dalamnya menyangkut cinta, daya juang, hingga masalah sosial. Dalam kumpulan cerpen tersebut berisi tiga belas judul cerpen yang menarik untuk dibaca, yakni: Aina, Perempuan Kedua, Sepotong Wajah, Fragmen Musim Gugur, Perempuan Pencari Dada Ibu, Calana Dalam, Kamar Berlumut, Laily, Ma’e, Perempuan Cahaya, Rumah di Seberang Kuburan, Awan Menangkap Rembulan, dan Hari Ini Ada yang Mati Lagi.
Labibah Zain menceritakan dengan jelas dari sisi perempuan yang sering kali disakiti, juga tidak jarang terjepit oleh pilihan yang tidak sama sekali tidak menguntungkan bagi perempuan. Seperti yang diceritakan dalam  salah satu cerpen dalam buku tersebut yakni “Aina”. Disitu diceritakan Aina adalah seorang syarifah (sebutan untuk perempuan yang mempunyai garis keturunan langsung dari Fathimah, putri Rasulullah Muhammad Saw) yang menjalin hubungan dengan ahwal (sebutan untuk orang yang tidak mempunyai garis keturunan langsung dari Fathimah, putri Rasulullah Muhammad Saw). Namun dalam keluarganya seorang syarifah tidak boleh menikah dengan seorang ahwal. Jika ia menikah dengan seorang ahwal maka keturunan selanjutnya akan terputus sebagai syarifah atau habib (sebutan untuk lelaki yang mempunyai garis keturunan langsung dari Fathimah, putri Rasulullah Muhammad Saw). Lalu ia dijodohkan dengan Haidar seorang habib pilihan keluarganya. Namun ia masih menjalin hubungan dengan Hartono, seorang ahwal yang ia cintai. Ia tidak diberi kesempatan memilih oleh keluarganya. Akhirnya ia memutus hubungan dengan Hartanto dan menikah dengan Haidar. Namun setelah menikah hidupnya tidak bahagia. Ia tidak diperlakukan baik oleh Haidar. Bahkan setelah tiga bulan ia menikah Haidar menikah diam-diam dengan perempuan lain. Haidar dendam terhadap Aina karena dahulu pernah dicampakkan dan lebih memilih Hartoto. Menurutnya ini tidak seberapa dibanding sakit hatinya dahulu saat ia dicampakkan oleh Aina. Bukan hanya itu Aina juga sering dipukul oleh Haidar. Aina tidak betah dengan suaminya, namun ia tidak berani mengadu. Ia tidak tahu ingin mengadu kepada siapa. Ia juga takut jika ia bercerita kepada ibunya akan menyakiti ibunya, karena ibunya sedang menderita penyakit jantung. Akhirnya ia memilih diam. Di sini jelas digambarkan seorang perempuan yang tersudut oleh pilihan yang tidak ia inginkan. Bahkan hanya sekadar mencurahkan isi hatinya pun ia tak  kuasa demi menjaga perasaaan orang lain. Meski ia sakit.
          Dalam kumpulan cerpen “Perempuan Kedua”, Labibah Zain menyajikan potret kaya ekspresi, selain secara gamblang memaparkan kondisi perempuan, ia telaten memperhatikan keinginan, harapan, kesedihan, termasuk yang membuat para perempuan bahagia. Termasuk yang ia ceritakan dalam cerpennya yang berjudul “Perempuan Cahaya”. Di dalamnya ia menceritakan seorang perempuan yang selalu dikhianati oleh lelaki, namanya Ely. Ia memiliki teman yang selalu setia mendampinginya saat ia terpuruk karena hatinya telah disobek-sobek oleh lelaki, ia memanggilnya kak Arum. Kak Arum adalah teman yang ia kenal saat menuntut ilmu di negeri seberang. Tapi hubungannya merenggang saat ia dekat dengan lelaki yang masih menjadi suami orang. Kak Arum menasihati agar menjauhinya tapi Ely tetap melanjutkan hubungannya bersama lelaki tersebut dan lebih memilih menjauh dari kak Arum. Tapi setelah itu Ely kembali dikhianati lelaki tersebut yang hanya memanfaatkan Ely. Akhirnya Ely kembali berteduh kepada Kak Arum. Kak arum laksana cahaya yang selalu menerangi Ely saat gelap tak tahu arah.
Kak Arum telah memiliki seorang suami yang soleh serta dua orang anak yang lucu. Mereka sangat dekat dengan Ely meski telah terpisah karena kak Arum harus kembali ke negerinya bersama suami serta dua anaknya. Suatu ketika ia bermimpi bertemu dengan kak Arum dan kedua anaknya yang sedang bermain di taman. Di wajah kak Arum, ia melihat kesedihan. Wajahnya begitu sendu. Namun kak Arum menguatkan diri sembari berbisik.
          “Aku dan anak-anak baik-baik saja di sini. Kau lihat sendiri kan, El? Anak-anakku berumah di taman itu. Burung-burung itu menjadi penjaga mereka dan batu-batuan bernyanyi bersama mereka. Satu yang aku cemaskan. Bang Edi tak bisa aku ajak serta. Aku tahu dia sangat terpukul dan kesedihannya membuatku menangis. Berjanjilah, El! Kau akan mengatakan pada bang Edi bahwa aku dan anak-anak baik-baik saja di sini. Berjanjilah, El, bahwa kau mau menjaga dan merawatnya dalam sebuah rumah.”
          Saat ia terbangun dari mimpinya ia tersentak, karena ia sadar bahwa kak Arum telah meninggal dunia terseret arus tsunami beserta anak-anaknya saat suaminya seminar di Jakarta, Desember tahun lalu. Ia mencoba mengartikan mimpinya. Tapi ia gagal. Lalu ia segera mengambil al-Quran untuk menenangkan hatinya serta berharap lantuan ayat-ayat yang dibacanya akan menambah kebahagiaan kak Arum beserta anak-anaknya di alam barzakh. Tepat pada ayat terakhir surat Yasin teleponnya berbunyi. Lalu ia mengangkatnya. Ternyata dari Bang Edi, suami kak Arum. Sebelum ia bercerita tentang mimpinya, bang Edi mendahuluinya dengan berkata, “Ely, maukah kau jadi istriku?”. Ely tercekat, tetapi tahu apa jawaban dari pertanyaan itu.
          Dalam cerpen tersebut Labibah Zain menampilkan cerita dari sudut perempuan, sebuah kebahagiaan yang tidak ia duga datangnya dan takdir yang begitu indah yang bisa datang dari hal yang tidak pernah ia minta, bahkan tidak pernah terpikir olehnya. Labibah Zain juga menceritakan bahwa perempuan terlibat dengan seluruh persoalan, baik secara pribadi yakni masalah rumah tangga sampai pada masalah sosial yang berpengaruh besar dalam kehidupan, seperti kemiskinan, pendidikan, serta kesetaraan derajat. Seperti yang ia gambarkan dalam cerpennya yang berjudul “Laily” ia menggambarkan dengan jelas bahwa perempuan belum mempunyai kesetaraan derajat yang diakui masayarakat. Di dalamnya diceritakan Laily adalah seorang perempuan sukses yang gajinya melebihi suaminya. Meski begitu ia tidak pernah sekalipun merendahkan suaminya. Walaupun ia tidak pernah mempermasalahkan gaji suami yang pas-pasan. Ia merasa suaminya tidak menyukainya terhadap derajat karrirnya yang lebih tinggi. Meski ia diakui sukses oleh masayarakat namun tak bisa dipungkiri bahwa perempuan yang terlalu sibuk dengan pekerjaanya dianggap durhaka terhadap suami. Malangnya lagi setelah delapan tahun ia menikah, ia tidak juga dikaruniai anak. Suatu ketika suaminya meminta mengadopsi anak tetangga sebelah yang tidak tahu ayahnya kemana. Setelah diadopsi Laily tidak suka dengan perlakuan anak tersebut yang tidak sopan. Lalu ia membentaknya, namun bentakan itu membuat suaminya marah. Ia tidak terima dengan perlakuan Laily. Ditamparnya Laily, dilemparkan beberapa cambukan sabuk di atas badan Laily. Lalu Laily diusir dari rumah. Berkali-kali Laily menggedor pintu, namun tak kunjung dibuka olah suaminya. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah temannya sementara sembari menghilangkan traumanya atas perlakuan suaminya. Seminggu kemudian Laily beranikan diri untuk datang ke kampus. Ia mendapati pandangan iba dari beberapa orang yang ada di sana. Ternyata berita yang tersebar selama ia berdiam diri di rumah temannya adalah ia meninggalkan rumah dengan keadaan hilang ingatan. Memang, istri meninggalkan suami adalah aib yang tak terkira, dan pantas diperlakukan apa saja sebagai imbalannya. Yang tak kalah menyakitkan dari berita yang beredar adalah suaminya mengakui bahwa anak yang ia adopsi beberapa hari lalu adalah anak kandungnya hasil pernikahan siri dengan ibu anak tersebut saat Laily berjuang menyelesaikan tesisnya di luar negeri enam tahun lalu.
          Dalam cerita tersebut diceritakan betapa beratnya menjadi perempuan. Keadilan berupa kesetaraan derajat terhadap perempuan belum begitu diakui masyarakat. Menjadi perempuan mandiri terkadang malah berdampak menimbulkan masalah terhadap diri sendiri. Masalah sosial yang menjerat perempuan yang lain adalah kemiskinan yang terkadang membuat perempuan yang terpaksa melakukan pilihan yang tidak ia inginkan. Seperti yang Labibah Zain ceritakan dalam salah satu cerpennya yang berjuduk “Ma’e”. Labibah Zain menceritakan kebringasan laki-laki yang menjadikan perempuan-perempuan malang menjadi korbannya. Salah satunya adalah perempuan dalam cerita “Ma’e” ini. Ia dilahirkan tanpa seorang ayah. Ia selalu disudutkan oleh pergaulan di kampungnya hanya karena ia anak jadah (anak yang lahir di luar nikah). Sampai dewasa ia telah kenyang dengan cemoohan warga. Ia hidup dalam keterbatasan materi. Hingga akhirnya ia kuliah di luar kota, ia berjanji akan membahagiakan ibunya, akan membebaskan ibunya dari kemelaratan yang selama ini menjeratnya. Ia bekerja keras sambil kuliah. Tragisnya di tengah perjalanan ia bekerja keras, di tanah kelahirannya terkena longsor dan rumahnya hancur di telan bencana itu. Ia semakin sedih melihat ibunya tinggal di tenda. Ia ingin segera membangun rumah untuk ibunya yang sedikit layak. Tentunya ia harus bekerja lebih keras lagi. Akhirnya ia terpaksa memilih untuk kawin kontrak dengan lelaki bejat yang memang selalu kawin kontrak dengan perempuan lalu di tinggal setelah itu mencari pengganti baru dan seterusnya. Semua itu terpaksa ia lakukan karena ia ingin segera mendirikan rumah untuk ibunya yang tinggal di tenda pengungsian. Setelah tiga bulan ia kawin kontrak ia mendapatkan uang yang cukup untuk membangun rumah untuk ibunya. Lalu ia pulang untuk menemui ibunya. Sesampainya di kampung halaman, ia dikejutkan oleh tetangga-tetangganya yang mengatakan bahwa ayahnya telah datang. Ia heran, tetangganya yang selama ini mencelanya memberikan sambutan senyum kepadanya. Setelah sampai di depan tenda pengungsian ibunya, ibunya berkata,
“Apa kataku, ayahmu pasti datang. Ciumlah tangan ayahmu nak!”
 Ibunya menunjuk pada lelaki yang baru saja keluar dari tenda. Ia terpana, lekaki itu pun terpana. Kemudian ibunya menceritakan perihal perkawinan kontraknya dengan ayah. Ayahnya salah tingkah. Begitu pula dengannya. Betapa tidak. Ayahnya adalah suami kontraknya. Dalam cerita tersebut sungguh memilukan, bahwa kemiskinan membuat perempuan memilih pilihan yang menyakitkan demi kebahagiaan ibunya. Justru malah ia kawin kontrak dengan ayah kandungnya sendiri.
          Pada puncaknya Labibah Zain menceritakan dalam cerpen “Perempuan Kedua” yang bercerita tentang keteguhan hati perempuan yang rela dimadu oleh suaminya. Alasan suaminya adalah ingin membahagiakan janda dan menyantuni anak yatim. Istrinya menyetujuinya. Tetapi pada akhirnya saat suaminya pergi melamar janda yang ingin ia jadikan istri kedua, istrinya menyelipkan surat di pot bunga di teras rumahnya bahwa ia pulang kepada orang tuanya. Ia menggugat cerai suaminya dan meminta agar membahagiakan janda beserta anak janda tersebut. Malangnya pada lamarannya kepada janda tersebut sang suami di tolak. Pada akhirnya ia hidup sendiri. Labibah Zain meceritakan betapa mudahnya lelaki mengkhianati ikatan suci pernikahan dengan alasan yang membuat orang iba. Padahal sebenarnya lelaki hanya tak dapat mengendalikan nafsunya.
          Labibah Zain memainkan berbagai variasi permasalahan individu dan sosial yang di dalamnya ada harapan pada idealitas, korban patriarkhi, pengaruh mistik dan takhayul, dan masih banyak lagi. Ia mengemas kata-kata sederhana tetapi penuh makna sehingga tersampaikan maksud yang ia ceritakan. Kisah-kisah tersebut bisa terjadi pada semua perempuan, di Indonesia maupun luar negeri, baik kota maupun desa. Ia menulis dengan pesan yang jelas, dekat dengan kisah nyata yang ada, serta beberapa ada yang mengandung humor kuat.








Ulasan Antologi Cerpen "perempuan Berlipstik Kapur"



Judul                : Perempuan Berlipstik Kapur
Pengarang        : Esti Nuryani Kasam
Tahun Terbit     : 2012
Oleh                  : Qismatun Nihayah
 

Mengupas segala kehidupan yang dialami perempuan memang seringkali mendapati kenyataan yang mengiris hati. Esti Nuryani Kasam menyuguhkan cerita yang mengandung beragam pelajaran tentang kekuatan jiwa perempuan yang bisa dijadikan sebagai pengajaran dalam mengarungi kehidupan. Ia juga menyinggung kejamnya zaman yang terus menguji ketegaran hati para perempuan. Dengan bahasa yang sederhana namun menyimpan sejuta makna ia kemas dalam cerita pendek (cerpen) dalam buku ini. Esti Nuryani Kasam memperlihatkan kepekaan yang tinggi terhadap berbagai persoalan kehidupan sekitarnya, tidak hanya persoalan pribadi tapi juga persoalan sosial. Dalam buku kumpulan cerpen “Perempuan Berlipstik Kapur” ini terdapat empat belas judul cerpen.
Esti Nuryani Kasam menceritakan betapa beratnya menjadi perempuan masa kini yang tak mampu bertarung dengan kerasnya arus zaman yang semakin kejam. Dalam judul cerpennya yang pertamanya, yakni “Rimpang” ia menegaskan bahwa perempuan memang harus lebih pandai agar tidak terkalahkan oleh waktu yang terus mengujinya. Tidak hanya pandai, setidaknya perempuan harus menyiapkan mental jika saja ia tidak bisa bertahan dalam zaman yang semakin keras ini. Dalam cerpen tersebut ia menceritakan seorang perempuan yang kalah dengan perkembangan zaman. Dalam cerpen tersebut ia menceritakan ketabahan seorang ibu yang terkalahkan oleh anak-anaknya yang telah maju pada peradaban zaman sekarang.  Sebenarnya ia tidak gagal mendidik anak-anaknya. Bahkan anak-anaknya sukses menjadi apa yang mereka inginkan. Sayangnya  kesuksesan yang dicapai anak-anaknya tidak seperti yang ia inginkan.  Ia hanya menginginkan anak-anaknya sukses dan masih tinggal bersamanya. Tetapi ketiga anaknya pergi entah kemana. Pergi sesuka hati mereka. Mereka merasa telah menemukan dunia mereka sendiri. Ada yang merantau ke Bali, berguru disana dan berharap menjadi pelukis sukses. Ada yang sukanya mendaki gunung tanpa memberitahu pulangnya kapan, terkadang sampai berbulan-bulan. Ibunya tak pernah mengerti apa yang dimaksud sukses di mata mereka. Ibunya bahkan tak pernah merasakan kesuksesan mereka. Yang ia tahu dari teman-teman anaknya, anaknya orang yang aktif, berprestasi, dan  disayangkan jika jalan anak-anaknya dihalangi. Ia hanya tertunduk diam. Ia pernah sekali menasihati anaknya agar tetap tinggal bersamanya dan meninggalkan rutinitas mereka yang sedikit membahayakan. Ibunya lebih senang jika ia memiliki anak yang biasa-niasa saja tapi tetap ada disamping ibunya dan ada jika dibutuhkan ibunya. Tapi mereka membantah dengan alasan bahwaa di zaman sekarang orang harus berjuang untuk maju, dan tidak hanya melakukan itu-itu saja. Mereka juga mengatakan bahwa ibunya tidak bisa mengerti anak muda di zaman sekarang yang harus terus maju. Ibunya dianggap masih mengikuti paradigma lama yang harus diperbarui sesuai zamannya. Katanya di zaman sekarang harus menjadi pribadi pemberani, mandiri, dan aktif. Jika ia hanya mengikuti seperti ibunya ia pantas hidup sebelum Kartini lahir, yakni sebagai generasi puritan. Anak-anaknya begitu pandai membantah hingga meluluh lantakkan perasaan ibunya. Ia hanya bisa diam dan mengasihani dirinya sendiri.
Dalam buku tersebut juga diceritakan begitu pekanya perasaan perempuan. Ia bisa merasakan sesuatu yang terjadi hanya dari instingnya. Perempuan bisa sabar, sekalipun ia telah dikecewakan. Tapi perempuan juga pantas mengambil tindakan tegas ketika ia telah benar-benar tak mampu membendung kekecewaan. Dalam cerpennya yang berjudul “Selingkuh itu Indah” Esti Nuryani Kasam menceritakan bagaimana perempuan merasakan dengan instingnya saat suaminya berkhianat. Sekalipun sang suami tak pernah memperlihatkan ataupun berubah sikap saat ia berselingkuh. Juga diceritakan bagaimana perempuan menyikapi kekecewaan yang tak terbendung dengan meninggalkan suaminya dengan menyibukkan diri dengan bekerja sembari memberi kesempatan kepada suaminya agar menceraikannya tanpa mengatakan hal yang dapat menyakiti suaminya.
Esti Nuryani Kasam juga menceritakan betapa kuatnya perempuan menghadapi kerasnya kehidupan. Ia perihatin dengan kaumnya yang sering kali tersiksa di negeri orang. Seolah belum kering luka terdalam masa lalu tentang kaumnya yang terkubur di perut bumi. Namun ia tak henti berjuang agar kaumya tak lagi tertindas. Ia menceritakannya dalam cerpen yang berjudul “Aku, Perempuan Gunungkidul”.
Di zaman yang semakin keras ini memang dibutuhkan orang-orang kuat dan mau melakukan perubahan agar tidak tertinggal. Esti Nuryani Kasam menceritakan dalam cerpennya yang berjudul “Perempuan Berlipstik Kapur”. Di dalamnya bercerita tentang perempuan penambang kapur yang tegar menghadapi kerasnya hidup di daerah tandus gunung kapur. Ia tinggal di rumah kecil, di sebuah kabupaten gersang, miskin, kurang air, dan banyak tragedi gantung diri. Namun semua keadaan yang tidak mendukung tersebut ia tetap mengupayakan perubahan agar di desanya tak lagi tertinggal. Sayangnya ia meninggal di tengah perjuangannya mengumpulkan kapur. Ia tertimpa longsor yang begitu dahsyat. Di akhir khayatnya ia di kenang di masyarakat sebagai perempuan yang menginspirasi kaumnya.
Dalam kumpulan cerpen “Perempuan Berlipstik Kapur” ini seolah mengajak menjelajah batin perempuan melalui kekuatan narasinya. Esti Nuryani Kasam sangat fasih memotret keadaann perempuan dan permasalahannya. Lewat kata-kata dan simbol-simbol yang kaya unsur lokal, cerpen-cerpen dalam buku “Perempuan Berlipstik Kapur” bisa menjadi bara bagi perempuan untuk senantiasa memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini terpasung. Tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut merupakan kesaksian perempuan yang telah memiliki kesadaran gender. Buku tersebut mengangkat masalah dan harapan  hidup perempuan desa di tengah kekuasaan budaya patriarkhi. Buku “Perempuan Berlipstik Kapur” sangat menyentuh dan inspiratif, membuka hati kita untuk lebih memaknai, menghargai, dan menghormati kaum perempuan dan kehidupan.

Ulasan Antologi Puisi "Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia"



Judul Buku       : Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia
Pengarang        : 51 Penyair Pilihan
Tahun Terbit    : 2012
Oleh                : Qismatun Nihayah

Kemerdekaan. Itulah yang diagung-agungkan para pejabat negara. Iya. Indonesia telah merdeka sejak 69 tahun yang lalu. Bebas dari penjajahan bangsa lain. Rakyat indonesia telah mampu tersenyum, harusnya. Tapi apakah kemerdekaan tersebut sudah dirasakan seluruh rakyat indonesia? Kurasa seluruh lapisan di negeri nan indah ini telah mengetahui jawabannya. Tapi pernahkah mereka menengok saudara-saudaranya yang peluh dengan kemiskinan. Kita perlu prihatin. Mereka hanya berbicara seolah kita harus maju. Tapi kenyataannya mereka mengabaikan generasi yang akan membela tanah air seterusnya. Mereka biarkan rakyat kecil menangis, mengiba, kelaparan, sengsara. Itulah kiranya gambaran negeri kita ini. Negeri Indonesia.
Dalam buku antologi puisi “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” yang di dalamya berisi coretan pena oleh 51 penyair pilihan berisi kritik sosial. Membaca buku tersebut membawa kita seakan dekat dengan berbagai kehidupan yang ada di negeri ini. Di dalamnya berisi kisah sehari-hari yang dirangkai dalam kata-kata berbentuk puisi. Tentu di dalamnya menggambarkan kehidupan rakyat Indonesia. Sebagai salah satu potret rakyat kecil yang ada di negeri ini juga dituliskan dalam puisi di dalam buku tersebut. Seperti dalam puisi “Doa Orang Miskin’’ karya Abah Yoyok. Di dalamnya menggambarkan betapa sabarnya orang miskin menghadapi hidup tanpa diperhatikan penguasa yang saling berkhianat. Mereka yang semakin terpuruk hanya mampu berdoa agar mampu melawan orang-orang berkuasa yang tak tahu diri di negeri ini. Di buku tersebut juga menguraikan keadilan yang begitu aneh dirasakan oleh masyarakat. Penyair Endang Werdiningsih menyairkannya dalam puisi “Tragedi Sandal Jepit”. Ia mengutarakan tentang hukuman lima tahun bagi anak kecil yang mencuri sandal jepit. Sedangkan pencuri-pencuri di bangku terhormat sedikit disepelekan kasusnya.
Jika memahami lebih dalam negeri ini, memang banyak permasalahan sosial yang masih belum terselesaikan. Bahkan sangking kebalnya, masalah itu semakin membudaya. Dari permasalahan politik yang berkuasa hingga rakyat kecil. Dalam buku puisi “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” banyak sekali puisi yang menyinggung tentang penguasa di negeri ini. Diantaranya: DPO Koruptor, Kerudung, Beri Aku Lupa, Kemana Kau Bawa Negeri Ini, Perihal Janji, Interupsi, Kepada Wakil Rakyat, dan masih banyak lagi. Dalam puisi “Perihal Janji” Boedi Ismanto S.A menyinggung para pejabat negeri yang suka mengumbar janji dan akan ingkar setelah mereka berkuasa. Di dalam buku tersebut juga menyinggung zaman yang semakin rusak dengan generasi yang tak tahu diri. Seperti dalam puisi “Isyarat” karya Abah Yoyok. Dalam puisi tersebut menjelaskan bahwa kaum muda sekarang yang semakin rusak. Kaum muda zaman sekarang tidak asing lagi dengan alkohol, ganja, dan barang haram lainnya. Bahkan mereka akrab dengan barang-barang tersebut. Tepat pada bait terakhirnya, Abah Yoyok menegaskan.
Dinding  hari menyempit
Kembang melati bau mayit
Akan runtuh sebuah generasi
Sebentar lagi
Herman Syahara menuliskan puisi “Penyair Mati Di Layar Televisi”. Di dalamnya seakan penyair menuangkan curahan hatinya, bahwa penyair telah tak dianggap di masyarakat. Bahkan di televisi hanya membutuhkan sensasi. Bukan karya, bahkan bukan puisi yang mungkin bagi mereka kurang trendi. Tapi itulah yang selama ini digemari. Penyair seakan telah mati di televisi. Puisi “Keping Derita” dari Aspar Paturusi juga tidak kalah indahnya. Di dalamnya ia memaparkan zaman sekarang memang penuh kedzaliman. Kita telah merdeka. Tapi siapa sangka kita harus lebih waspada. Jika dahulu perang adalah hal yang menakutkan, di masa kini manusia-manusia bertopeng yang diam-diam berkhianat tak kalah seram. Mereka perlahan-lahan menghancurkan negara.
Di dalam buku antologi puisi “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” yang paling menarik adalah puisi karya Handrawan Nadesul yang berjudul “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia”. Di dalamnya berisi ketabahan para rakyat kecil yang selalu dibohongi para pejabat. Sedangkan pejabat seperti lupa, bahkan tak melihat rakyatnya. Berikut cuplikan puisinya
Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih gigih berjalan kendati kehilangan mendapat cukup makan cukup pangan
Tak ada dendam yang berjasa terabaikan yang mengabdi tersingkirkan
Tersaruk-saruk atlet veteran menjual medali buat makan
Hujan batu di negeri orang karena emas di negeri sendiri tak memberi pekerjaan
Masih tekun menanti kapan di stasiun tempat bisa hidup pantas akan tiba
Kalau mereka masih bertanya tak berkata-kata
Karena teramat mencintai republik sepermai ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih tersenyum padahal sudah lapar sekali
Masih terdiam padalah sudah perih sekali
Masih menerima padahal sudah  pilu sekali
Masih bertahan padahal sudah payah sekali
Belum menangis dari jatuh-bangun berkali-kali
Dibohongi berulaang-ulang kali
Mereka kuat karena merasa hidup memang harus begini
Atau barangkali karena niscaya Gusti ora sare.
Handrawan Nadesul menggambarkan dengan jelas kehidupaan negeri ini di puisinya. Ia menceritakan rakyat kecil yang hanya diam melihat perlakuan penguasa yang semena-mena. Pejabat yang hanya terdiam melihat fenomena hidup rakyatnya yang terseok-seok, bahkan mungkin mereka menikmatinya. Dalam puisi yang berjudul “Garudaku Mengeram Peradaban”, M. Enthieh Mudakir juga mengungkapkan hal yang sama seperti yang diungkapkan oleh Handrawan Nadesul dalam puisinya “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia”.
Handrawan Nadesul juga mengungkap gejolak rakyat Indonesia dalam puisinya yang berjudul “Jangan Tunggu Rakyat Kehabisan Diam”. Di dalam puisi tersebut Handrawan Nadesul seakan mengungkapkan pesan bahwa jangan salahkan rakyat jika suatu saat memberontak, karena sang penguasa negeri sudah lupa diri dan ingkar janji. Rakyat yang menjadi tanggung jawab mereka pun diabaikan.
Dalam buku antologi puisi “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia” memang di dalamnya lebih banyak berisi puisi yang menyinggung tentang penguasa negeri. Mungkin itu memang menjadi fenomena utama yang menarik disinggung oleh para penyair. Namun di dalam buku tersebut masih ada banyak puisi menarik yang menyinggung masalah sosial dalam negeri kita, Indonesia. Diantaranya puisi mengenai kehidupan rakyat kecil, dari kemiskinan, mata pencaharian, pendidikan, kehidupan anak jalanan, juga mengenai batin para penyair, dan masih ada banyak lagi. Buku tersebut memang diciptakan atas dasar antusias para penyair akan keadaan dan situasi masyarakat Indonesia sekarang ini. Buku ini adalah bentuk kebanggan para penyair atas tumpah darah terhadap tanah air Indonesia, juga memuat pesan agar Indonesia tidak terbelenggu jiwanya, dan bisa berubah lebih maju dari keadaan sekarang.